Larut dalam Tebe, Kapolres Malaka Ikut Menari Bersama Masyarakat Saat Tiba di Rumah Adat Uma Dato Nonot

Larut dalam Tebe, Kapolres Malaka Ikut Menari Bersama Masyarakat Saat Tiba di Rumah Adat Uma Dato Nonot

Larut dalam Tebe, Kapolres Malaka Ikut Menari Bersama Masyarakat Saat Tiba di Rumah Adat Uma Dato Nonot

MALAKA – Langkah kaki sepanjang kurang lebih empat kilometer akhirnya tiba di Rumah Adat Uma Dato Nonot, Dusun Uarau, Desa Babulu, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. Namun, perjalanan tersebut bukan sekadar menempuh jarak, melainkan menjadi perjalanan penuh makna yang mempertemukan Polri dengan masyarakat dalam balutan adat dan kekeluargaan.

Kapolres Malaka AKBP Riki Ganjar Gumilar, S.I.K., M.M., turut mengambil bagian dalam prosesi adat pengambilan air pemali dari Fafilik, Dusun Uarau C, Desa Babulu, untuk dibawa menuju Rumah Adat Uma Dato.

Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki bersama masyarakat dan rumpun keluarga besar Suku Uma Dato Nonot. Sepanjang perjalanan, suasana berlangsung penuh keakraban, diiringi lantunan tebe dan likurai yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Malaka.

Momen yang semakin menghangatkan suasana terjadi ketika rombongan tiba di Rumah Adat Uma Dato. Di tengah sambutan masyarakat yang penuh kegembiraan, Kapolres Malaka tidak hanya berdiri sebagai tamu undangan.

Kapolres turut larut dalam tarian tebe bersama masyarakat.

Dengan penuh keakraban, Kapolres Malaka ikut melangkahkan kaki mengikuti irama tebe bersama warga. Tidak ada jarak antara seorang Kapolres dengan masyarakat yang menyambutnya. Yang terlihat adalah kebersamaan, senyum, dan persaudaraan dalam satu lingkaran adat.

Momen tersebut menjadi gambaran sederhana namun bermakna bahwa kedekatan Polri dengan masyarakat dapat tumbuh melalui penghormatan terhadap budaya dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Tebe bukan hanya sebuah tarian. Di dalamnya terdapat semangat kebersamaan, persaudaraan, penghormatan dan kegembiraan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran Kapolres Malaka yang ikut menari bersama masyarakat menjadi simbol bahwa Polri hadir untuk mendekat, mendengar, menghargai dan berjalan bersama masyarakat, termasuk dalam menjaga serta menghormati nilai-nilai kearifan lokal.

Di Rumah Adat Uma Dato Nonot, perbedaan peran seakan melebur dalam satu suasana kekeluargaan. Seragam kepolisian tetap dikenakan, tetapi hati dan langkah menyatu bersama masyarakat dalam sebuah tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Malaka juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan, persaudaraan, keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Ketika kita mampu menjaga adat, menghormati budaya dan mempererat persaudaraan, maka kita juga sedang menjaga kedamaian di tengah masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam suasana kekeluargaan.

Peresmian Rumah Adat Uma Dato Nonot menjadi momentum penting bagi keluarga besar Suku Uma Dato Nonot untuk menjaga identitas dan warisan leluhur. Kehadiran Polri di tengah kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi merupakan hasil dari kebersamaan seluruh elemen masyarakat.

Dari perjalanan empat kilometer menuju rumah adat hingga larut dalam tarian tebe, Kapolres Malaka menunjukkan bahwa membangun kedekatan dengan masyarakat terkadang tidak membutuhkan banyak kata. Cukup dengan hadir, berjalan bersama, dan ikut merasakan kebahagiaan masyarakat.

Sebab ketika Polri berjalan bersama masyarakat, rasa persaudaraan tumbuh. Dan ketika Polri menghormati adat, kepercayaan pun semakin kuat.

Humas Polres Malaka